Sering Celaka, Busway Semoga Gak Jadi Mesin Kematian Bagi Warga Jakarta?
Jakarta Selatan 24 Jam– Denting besi, pecahan kaca, dan jeritan panik kembali memecah pagi di Ibu Kota. Jumat (19/9/2025) pagi yang seharusnya menjadi awal rutinitas warga Jakarta berubah menjadi mimpi buruk di kawasan Pulogebang, Cakung. Sebuah bus Transjakarta dari koridor 11, yang seharusnya meluncur tertib di jalurnya, justru menghajar empat rumah toko (ruko). Hasilnya enam orang harus menanggung luka-luka, sebuah pengingat keras betapa nyawa taruhannya setiap kali roda busway itu berputar.
Insiden Pulogebang bukanlah yang pertama, dan sayangnya, selama akar masalahnya tidak diselesaikan, ia mungkin bukan yang terakhir. Tren kecelakaan yang melibatkan bus raksasa bernama Transjakarta ini telah memantik pertanyaan besar: Sudah amankah transportasi massal yang menjadi kebanggaan (dan tulang punggung) warga Jakarta ini? Atau justru ia perlahan berubah menjadi “mesin kematian” yang mengintai di jalur khususnya?
Klaim vs Realita: Data yang Bercerai Berdua
Transjakarta, sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), pernah mengeluarkan klaim yang terkesan meyakinkan. Mereka menyatakan tingkat kecelakaan mereka turun dan berada di angka 0,36 per 100.000 kilometer. Angka tersebut, jika dibaca sekilas, terlihat teknis dan rendah. Namun, mari kita urai: angka itu berarti untuk setiap 100.000 kilometer yang ditempuh seluruh bus, terjadi 36 kali kecelakaan.
Namun, klaim ini berbenturan keras dengan realita yang dipaparkan oleh DPRD DKI Jakarta. Data yang disoroti oleh Anggota Komisi B DPRD DKI, Francine Widjojo (PSI), justru melukiskan gambaran yang suram. Sepanjang 2023, tercatat 1.298 insiden kecelakaan. Di tahun 2024, angkanya masih sangat tinggi: 1.047 kejadian. Ini berarti, dalam rata-rata harian, Jakarta menyaksikan 2 hingga 3 kali kecelakaan yang melibatkan bus Transjakarta. Setiap. Hari.
Baca Juga: Suasana Haru Sidang Vadel: Menangis Mohon Keluarga Tak Lagi Dihujat Netizen
Data mana yang lebih kita percayai? Klaim statistik per kilometer yang abstrak, atau hitungan jumlah insiden nyata yang merusak properti, melukai, dan mengancam jiwa? Kontradiksi ini sendiri adalah alarm pertama bahwa mungkin ada sesuatu yang salah dalam sistem pelaporan dan akuntabilitas keselamatan.
Membongkar Penyebab: Rem Blong, Sopir Ugal, dan “Penyerobot Jalur”
Lalu, apa penyebab dari rentetan insiden yang tidak ada habisnya ini? Narasinya seringkali berbelit.
-
Faktor Internal: Kelalaian Manusia dan Teknis. Istilah “rem blong” dan “sopir ugal-ugalan” sudah seperti mantra yang terus diulang. Keduanya adalah indikator kegagalan manajemen internal yang parah. Rem blong menunjuk pada masalah perawatan armada yang tidak optimal. Sementara sopir yang ugal-ugalan mencerminkan proses rekrutmen, pelatihan, dan pengawasan yang lemah. Sopir bus Transjakarta membawa amanah ratusan nyawa penumpang dan pengguna jalan lain. Standar untuk mereka haruslah sangat tinggi, baik dari segi skill mengemudi, mental, dan disiplin.
-
Faktor Eksternal: “Tikungan” Paling Mudah. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tidak menyangkal akan mengevaluasi Transjakarta. Namun, dalam pernyataannya, beliau juga menyoroti faktor eksternal: pengendara lain yang sering menerobos jalur khusus. Ini adalah masalah klasik yang nyata dan memang terjadi. Motor atau mobil yang tiba-tiba memotong jalur busway bisa memicu sopir bus melakukan manuver menghindar yang berbahaya. Namun, menjadikan ini sebagai alibi utama adalah berbahaya. Jalur khusus seharusnya menjadi area yang terkendali. Jika penyerobotan masih sering terjadi, itu justru menunjukkan kegagalan dalam sistem pengawasan dan penegakan hukum di jalur tersebut.
Evaluasi Janji Pemerintah: Antara Komitmen dan Tekad Nyata
Respons dari Pemprov DKI pimpinan Pramono Anung sudah tepat: janji evaluasi menyeluruh. Pernyataannya bahwa “keamanan dan kenyamanan menjadi faktor penting dalam mendorong warga beralih ke transportasi umum” adalah prinsip yang sangat benar. Transjakarta memang sedang naik daun, dengan jumlah penumpang yang meningkat signifikan. Namun, pertumbuhannya tidak boleh dibangun di atas fondasi keselamatan yang rapuh.
Janji evaluasi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata dan transparan, bukan sekadar retorika birokrasi. Beberapa langkah konkret yang harus dipertimbangkan:
-
Audit Keselamatan Mendadak: Memeriksa keseluruhan armada, khususnya sistem rem, kemudi, dan kesiapan darurat.
-
Re-Evaluasi dan Pelatihan Ulang Massal untuk semua sopir, termasuk pemasangan teknologi pemantau kecepatan dan perilaku mengemudi (telematics).
-
Penegakan Hukum Tegas di jalur busway, baik dengan menambah kamera pengintai maupun patroli yang lebih gencar.
-
Transparansi Data: Memublikasikan data kecelakaan secara terbuka dan detail (penyebab, koridor, operator) agar publik bisa ikut mengawasi.












